Panasnya Potensi Bisnis Frozen Food, Jual Apa Ya?

Frozen Food

Kami sebut bisnis yang satu ini dengan “panas” karena potensinya yang masih luas dan tak terhingga, meski tingkat persaingan cukup ketat di lini terbawah, yak itulah bisnis Frozen Food!

Taukah kamu, pada tahun 2021 sektor ini nilainya mencapai total 95 triliun rupiah? Bahkan mengutip dari KONTAN, Ketua Umum Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) menyebut bahwa estimasi nilai pasar Frozen Food akan terus meningkat, mencapai 200 triliun rupiah pada 2025.

Selain karena banyak diminati karena kemudahan mengolahnya, bisnis yang satu ini juga tidak perlu banyak izin dalam pelaksanaannya. Kamu sudah siap untuk ambil bagian di bisnis ini? Sudah tahu mau jual apa? Simak selengkapnya di artikel ini!

Apa itu Frozen Food?

Pangan olahan beku (Frozen Food) merupakan pangan olahan yang diproduksi dengan menggunakan proses pembekuan dan dipertahankan tetap beku pada suhu -18 derajat Celcius sepanjang rantai distribusi dan penyimpanannya. – Badan POM

Sedangkan Pangan Olahan yang dimaksud ialah segala makanan atau minuman makanan baik yang telah diberi bumbu tambahan ataupun tanpa tambahan apapun, dan telah melalui proses tertentu.

Jenis Frozen Food Populer

1. Nugget

Nugget ialah makanan olahan yang memiliki bahan dasar beragam jenis daging yang melalui proses penggilingan, dan dicampurkan dalam sebuah adonan tepung berbumbu, dan biasanya di bagian luar terlapisi oleh tepung Panko atau tepung Panir.

Di Indonesia, segmentasi produk yang satu ini cenderung diperuntukkan untuk anak-anak maupun remaja. Selain disukai karena rasanya yang gurih, produk ini jadi jalan keluar tercepat bagi para Ibu untuk tetap menghidangkan sarapan yang hangat, sebelum anak-anak mereka pergi ke sekolah.

Belakangan ini, di beberapa kota besar, utamanya sekitaran Jakarta. Produk yang satu ini juga jadi materi dagang street-food, disajikan dalam bentuk Sate, dan disajikan dalam format buffet, namun baru digoreng setelah dipilih konsumen.

2. Sosis

Meski secara bentuk berbeda dengan Nugget, bahan dasarnya memiliki kesamaan yakni gilingan daging, namun terbungkus oleh kolagen hewani baik dari sapi maupun ikan, sedangkan di banyak negara Eropa dibungkus menggunakan bagian usus dari hewan.

Segmentasi produk ini cukup luas, kamu bisa temukan olahan produk ini di menu breakfast hotel hingga di menu Nasi Goreng kaki lima. Sedangkan di lini rumah tangga, tentu produk ini dikonsumsi oleh beragam usia, mulai dari anak-anak hingga para lansia.

Meski di Eropa sana ini jadi sajian utama, di Indonesia produk ini cenderung jadi bahan pelengkap. Misalnya, diiris tipis untuk mengisi telur dadar, atau dipotong kecil untuk jadi toping spaghetti. Adapun senasib dengan Nugget, produk yang satu ini juga jadi bahan dagang street-food.

3. Bakso

Bakso ialah produk olahan daging hewani yang bercampur dengan tepung dan bumbu, kemudian dibulatkan dan direbus dalam waktu tertentu, sebelum nanti kembali direbus sebelum disajikan atau diolah kembali dengan metoda yang berbeda.

Pemanfaatan produk ini lebih luas ketimbang dua produk sebelumnya. Hal ini jelas karena bakso lebih dahulu relevan bagi masyarakat dari tiap kelas ekonomi, mulai dari yang kurang mampu hingga yang berkecukupan.

Dapat ditemui di kaki lima, hingga di restoran kelas atas yang umumnya dijadikan bahan pelengkap saja. Prospek menjual produk ini masih terbuka luas, meksi pesaing tak langsungnya ialah pedangan bakso kaki lima itu sendiri, karena bakso yang mereka buat cenderung berbeda (umumnya self-made).

4. Olahan Seafood

Sebut saja Crab StickFish CakeCikuwa dan produk lainnya, yang biasanya jadi elemen pengisi menu Steam-Boat atau Hot-Pot lainnya. Beragam produk tersebut berasal dari protein hewani asal laut (umumnya) yang dicampurkan dalam adonan tepung tertentu, lalu dimasak hingga hampir matang, lalu dikemas.

Konteks “hampir matang” disini merujuk pada konsep seperti pada produk Bakso ya! Meski segmentasinya tidak seluas bakso, namun kian familiar belakangan ini karena sajian ala Korea yang di sesuaikan dengan lidah masyarakat kita, sebut saja Tteokbokki. Atau digunakan dalam sajian ala Thailand, yakni Tomyam.

Analisa kami, segmentasinya mengarah pada para remaja hingga masyarakat usia 40-an. Dimana, individu pada usia tersebut masih mudah merespon trend. Apapun yang viral akan disambut oleh mereka. Apakah kamu salah satunya?

5. Dumpling

Meski cukup luas, tapi beberapa produk yang bisa kami sebutkan di antaranya ialah SiomayRisolesPangsitDimsum hingga bakpau, dan lainnya. Sederhananya, sajian makanan yang dibagian luarnya dilapisi oleh lapisan kulit terbuat dari tepung dan bahan lainnya.

Menurut kami, ini salah satu produk alternatif yang cukup layak kamu pertimbangkan untuk mengisi sebagian stock dari rencana bisnis Frozen Food milikmu. Meski mungkin tidak se-stabil Nugget atau Sosis dalam proses penjualannya, kategori produk ini penting kamu hadirkan, sebagai upaya menawarkan produk yang bervariasi.

6. Arabian dan Japanese Frozen Food

Meski terlihat aneh ketika menggabungkan dua ini, tapi ketika kami sebut beberapa nama produk seperti Kebab dan Katsu, kamu pasti paham mengapa kami cantumkan kedua makanan asal negara tersebut dalam daftar ini.

Mengapa? karena untuk menikmati dua sajian itu secara langsung (fresh-cook) cukup “menyusahkan” karena kamu harus datangi resto maupun tokonya secara langsung, yang notabenenya tidak di setiap derah ada.

Apakah dalam jarak 200 meter dari rumahmu kini ada restoran Jepang, ataupun pedagang Kebab? Untuk Kebab mungkin iya, tapi tidak dengan restoran Jepang. Tapi, apakah untuk menikmati Bakso kamu kesulitan? tentu tidak, pedagang Bakso banyak bertebaran.

Meski peminatnya tidak seluas produk lainnya yang ada di dalam daftar ini, kamu perlu pertimbangkan untuk memasukkannya ke katalog produkmu, agar merambah niche market (segmen sempit – khusus).

Kesimpulan

Beberapa produk di atas memiliki segmentasi yang berbeda, baik berdasarkan usia konsumen, latar geografis (perkotaan – pedesaan), trend yang muncul belakangan, atau jenis makanan apa yang bisa diolah dari produk kamu itu.

Tugas kamu ialah menentukan terlebih dahulu segmen mana yang ingin kamu rebut pasarnya, saran kami cobalah dengan melihat kebutuhan di lingkungan terdekat kamu. Kamu bisa mulai menanyakan kakak-adik dan saudara kamu, serta teman atau tetanggamu.

Tidak ada salahnya melakukan survey kecil pada sebera rela mereka mengeluarkan uang untuk Frozen Food, karena tidak bisa dipungkiri ada saja yang tidak mau konsumsi produk beku, karena dianggap tidak fresh.

Kamu juga bisa riset di beragam e-commerce seperti Tokopedia, Shopee atau Bukalapak untuk tahu apa yang paling banyak terjual di sana.

Atau kamu bisa manfaatkan aplikasi GrabFood maupun Shopee Food untuk tahu kategori restoran terdekat dan kebutuhan Frozen Food mana yang paling mungkin bisa ditawarkan pada mereka, siapa tahu kamu bisa jadi suplier mereka!

Kamu juga bisa lihat dari perspektif yang lain, dibanding jual langsung Frozen Food, kenapa kamu tidak jual saja olahannya? Misalnya untuk kedai Tteokbokki ataupun berdagang Dimsum, gimana?

Terakhir, maksimalkan pemanfaatan media sosial sebagai dasar riset dan media promosi untuk bisnis Frozen Food kamu, karena sekarang semua hal selalu identik dengan sosmed dan netizen. Selamat mencoba ya!