Rumus Profit Margin: Gross, Operating & Net Margin

cara menghitung rumus profit margin

Memahami cara menghitung rumus profit margin dalam bisnis, itu wajib hukumnya. Terlebih ada tiga struktur yang harus dibedah, baik itu Gross, Operating dan Net Margin. Apa fungsi ketiga margin tersebut?

Implementasi Ragam Rumus Margin pada Profit Bisnis

(via: Getjobber.com)

Pada lingkup investasi, hal ini merujuk pada situasi dimana investor memadukan uang yang dimilikinya, dengan sejumlah uang yang dipinjamkan (utang) oleh sekuritas untuk membeli saham atau aset.

Bila investor dapat mengakses fitur di atas, maka investor tersebut sedang mengakses Margin Account. Proses beli saham atau aset dengan fitur seperti ini, disebut Margin Trading.

Karena bersifat utang, modal sebenarnya berfungsi menjadi penjamin, maka perbedaan nilai aset (yang dibeli) dengan modal sebenarnya disebut Leverage.

Ketika Leverage menyentuh titik didihnya, dalam hal ini utang sudah mencapai nilai maksimal tertentu dari modal sebenarnya, maka sekuritas akan meminta investor untuk menambah modal milik mereka, ini disebut Margin Call.

Berbeda dengan hal tersebut, dalam lingkup bisnis, margin adalah besaran perbedaan harga jual dengan jumlah uang yang dibutuhkan untuk memproduksi atau mendapatkan produk tersebut.

Dalam bisnis, strukrur margin merujuk pada Revenue (Total Pendapatan),

Dalam lingkup bisnis, margin adalah besaran perbedaan harga jual dengan jumlah uang yang dibutuhkan untuk memproduksi atau mendapatkan produk tersebut.

Dalam bisnis, strukrur margin merujuk pada Revenue (Total Pendapatan), Cost of Goods Sold atau disingkat COGS (Total Pengeluaran), dan Gross Profit (Sisa Pendapatan).

 atau disingkat COGS (Total Pengeluaran), dan Gross Profit (Sisa Pendapatan).

Senada tapi tak sama, dalam akuntansi, margin merujuk tiga momentum utama dari ‘keuntungan’ yang didapat oleh suatu perusahaan, yang akan dituangkan dalam sebuah Laporan Laba Rugi (Income Statement).

Laporan Laba Rugi ialah representasi secara umum dari pengeluaran dan pendapatan sebuah perusahaan. Yang dijelaskan secara menyeluruh pada bagian selanjutnya dalam artikel ini.


1. Gross Margin

(via: Vecteezy.com)

Gross Profit Margin adalah rumus margin terkait profit yang harus diidentifikasi pertama kali. Hal ini mengambil sudut pandang ‘untung’ sebagai pendapatan yang tersisa setelah membayarkan beban pokok penjualan berupa Harga Pokok Produksi (HPP).

Penting, perlu diingat dalam perhitungan HPP terlepas dari nilai pajak, hutang, biaya tetap, overhead cost, dan sebagainya. Sehingga, HPP atau biaya variabel, hanya merujuk pada segala biaya langsung terkait produksi.

Selanjutnya dalam pelaporan, cara menghitung rumus profit margin yang satu ini akan dituliskan dalam bentuk:

(Laba Kotor / Penjualan Bersih) x 100%

Bila Gross Profit tinggi maka bisa dipastikan modal milik perusahaan tersebut bertambah besar. Ini dapat berpengaruh signifikan, untuk membantu proses pelunasan hutang (umumnya).

Bila nilainya rendah, atau jatuh begitu signifikan maka akan langsung berpengaruh pada hasil bottom line pada Laporan Laba Rugi milikmu.

Maka ada dua hal yang signifikan terkait kejatuhan nilai tersebut, yaitu lemahnya permintaan (turunnya volume perdagangan), atau tingginya biaya produksi.


2. Operating Margin

(via: Vecteezy.com)

Operating Profit Margin adalah pandangan ‘untung’ yang diambil dari perolehan sisa hitung biaya operasional (mungkin hingga level harian) dari total pendapatan.

Penting, perlu diingat beban yang mungkin bisa dituliskan dalam perhitungan ini relatif lebih banyak dibanding struktur lainnya. Mencakup beban selama penjualan, administrasi, overhead, penyusutanNamun, sekali lagi terlepas dari nilai pajak dan hutang.

Selanjutnya dalam pelaporan, cara menghitung rumus profit margin yang satu ini akan dituliskan dalam bentuk:

((Pendapatan + HPP – Beban Operasional ) / Pendapatan) x 100%

Bila Operating Profit tinggi maka bisa dikatakan perusahaan tersebut memiliki risiko finansial yang rendah. Terlebih, bila nilainya kian tinggi di periode selanjutnya. Menunjukkan ada pertumbuhan operasional yang signifikan di lini ‘administrasi’.

Namun bila nilainya rendah mengindikasikan indikator operasional yang terlalu tinggi, begitu juga dengan aspek non-operasional. Umumnya, dikategorikan rendah, bila nilainya dibawah 15% dalam suatu periode.



3. Net Margin

(via: Blog.yezza.com)

Net Profit Margin adalah sebenar-benarnya istilah dari Profit Margin. Inilah babak akhir terakhir cara menghitung margin.

Net Profit Margin adalah sebuah rasio keuangan yang menggambarkan seberapa besar persentase keuntungan yang didapat dari sejumlah penjualan produk atau jasa tertentu.

Penting, perlu diingat bahwa untuk mencapai tahap ini, yang digunakan adalah Laba Bersih yang telah bebas dari beban pajak dan bunga, beserta seluruh beban secara umum.

Selanjutnya dalam pelaporan, cara menghitung rumus profit margin yang satu ini akan dituliskan dalam bentuk:

(Laba Bersih / Pendapatan) x 100%

Bila Net Profit tinggi maka secara menyeluruh perusahaan telah mampu secara efisian mengkonversikan penjualan menjadi keuntungan nyata.

Berkebalikannya, bila nilainya rendah maka bisa dipastikan bahwa alokasi atau penggunaan struktur permodalan dan keuangan secara umum begitu buruk, serta menggambarkan strategi penjualan dan penetapan harga yang tidak tepat.


4. Langkah Peningkatan Profit Margin

(via: Smallbiz.tools)

Ketiga fungsi margin di atas sebenarnya punya benang merah yang sama, yakni sebagai upaya identifikasi capaian dari suatu bisnis.

Dengan mengidentifikasinya, pemilik maupun investor dapat melihat, kekurangan mana yang bisa ditingkatkan, agar capaian tersebut setidaknya bisa pulih.

Dari ketiganya, memang fungsi dari Net Margin jadi target terakhir yang paling diburu oleh seluruh pengusaha untuk capai angka maksimalnya. Berikut, ada 11 langkah yang bisa kamu upayakan untuk mencapai hal tersebut:

  1. Meningkatkan inventory visibility, atau kemampuan melacak tiap produk atau jasa yang kamu tawarkan bila berada pada jangkauan pasar yang luas. Ketika ada perubahan trend, kamu bisa lebih responsif untuk beradaptasi, dan menghindar dari jatuhnya harga
    • Layaknya yang dilakukan oleh beberapa produsen mobil, yang menarik spare part ‘cacat’ dari pasaran, demi menjaga ‘nilai’ kendaraan dan loyalitas konsumen
  2. Meningkatkan citra brand dari layanan atau produk alternatif, atau dalam konteks ini tidak bergantung pada satu produk saja sebagai jembatan komunikasi antara kamu dengan pelanggan, butuh produk alternatif demi tingkatkan hubungan emosional
    • Layaknya sebuah band atau musisi, yang tidak hanya menjual album, tapi juga merilis merchandise demi menjaga komunikasi dengan penikmatnya
  3. Fokuskan alur operasi ke dalam suatu layanan operasional yang terpusat, untuk menghindari pembengkakan biaya operasional
    • Layaknya penggunaan Whatsapp Business di satu akun, sehingga memusatkan alur informasi antara pelanggan dengan penjual. Meminimalisir kesalahan
  4. Upayakan upsellingdemi peningkatan order valuedalam konteks ini peningkatan bukan hanya dari segi jumlah, tapi nilainya pula
    • Layaknya tawaran ‘tambahan’ di tiap kali konsumen berhadapan dengan barista di Starbucks, konsumen akan ditawarkan paket bundling terlebih dahulu, sebelum ditawari produk additional lainnya (atau costum order)
  5. Tingkatkan hubungan relasional dengan vendor, atau mitra
    • Menjaga hubungan dengan mitra, hingga level terendah, mulai dari mitra utama, hingga Ojek Online akan memberimu informasi tambahan terkait perilaku konsumen
  6. Menjangkau pasar yang lebih luas dan calon konsumen baru adalah penting, tapi menjaga pelanggan (existing) lebih utama
    • Memberi layanan tambahan, atau sekedar pemberian greetings layaknya yang ditawarkan Bodyshop terhadap pelanggan yang berulang tahun akan meningkatkan loyalitas konsumen terhadap brand itu sendiri


Penutup

Demikianlah sedikit yang bisa kami bahas tentang rumus profit margin, dan implementasi serta fungsi dari tiap margin itu sendiri dalam keuangan suatu bisnis. Tentunya, profit sejalan dengan loyalitas dan intensitas konsumen berinteraksi dengan produkmu.